Ruang Lingkup

3.    RUANG LINGKUP
Program Kampung Iklim dapat dilaksanakan di pedesaan maupun perkotaan, dengan memperhatikan tipologi wilayah seperti dataran tinggi, dataran rendah, pesisir dan pulau kecil. Program Kampung Iklim mencakup tinjauan terhadap pelaksanaan kegiatan dan aspek:
1.    Adaptasi Perubahan Iklim;
2.    Mitigasi Perubahan Iklim;
3.    Kelompok Masyarakat dan Dukungan Berkelanjutan

Uraian kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat dalam kerangka Program Kampung Iklim adalah sebagai berikut:
1.    Adaptasi Perubahan Iklim;
a.    Pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor
    Pemanenan air hujan : embung, penampungan air hujan, lubang penampungan air
    Peresapan air : biopori, sumur resapan, Bangunan Terjunan Air (BTA), rorak, dan Saluran Pengelolaan Air (SPA)
    Perlindungan dan pengelolaan mata air : penanaman, membuat aturan, bangunan pelindung
    Penghematan penggunaan air : penggunaan kembali air, pembatasan penggunaan air
    Penyediaan sarana dan prasarana pengendalian banjir : pembangunan dan pengaturan bendungan dan waduk banjir, tanggul banjir, palung sungai, pembagi atau pelimpah banjir, daerah retensi banjir, dan sistem polder
    Sistem peringatan dini (early warning system) : Sistem Peringatan Banjir , jalur evakuasi, pelaporan hasil pemantauan,  penyampaian informasi secara cepat dengan alat komunikasi tradisional maupun modern.
    Rancang bangun yang adaptif  : meninggikan struktur bangunan, rumah panggung atau rumah apung
    Terasering : yang dilengkapi saluran peresapan, saluran pembuangan air, serta tanaman penguat teras yang berfungsi sebagai pengendali erosi dan longsor
    Penanaman vegetasi

b.    Peningkatan ketahanan pangan
    Sistem pola tanam : monokultur dan pola polikultur (tumpang sari, tumpang gilir, tanaman bersisipan tanaman campuran, dan tanaman bergiliran
    Sistem irigasi/drainase meliputi prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi, kelembagaan pengelolaan irigasi, dan sumber daya manusia. membangun waduk, waduk lapangan, bendungan bendung, pompa, dan jaringan drainase yang memadai, mengendalikan mutu air, serta memanfaatkan kembali air drainase
    Pertanian terpadu (integrated farming/mix farming) : menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan sehingga dapat meningkatkan produktifitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan.
    Pengelolaan potensi local : upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan tanaman dan hewan lokal yang dapat mendukung peningkatan ketahanan terutama yang memiliki potensi untuk beradaptasi terhadap kondisi iklim ekstrim
    Penganekaragaman tanaman pangan sehingga jika terjadi kegagalan panen pada jenis tertentu masih ada jenis tanaman lain yang dapat dipanen
    Sistem dan teknologi pengelolaan lahan dan pemupukan :
–    padi hemat air (model irigasi berselang/bertahap (intermittent irigation), dan tabela (tanam benih langsung/seeded rice)
–    Penggunaan pupuk unsur hara mikro misalnya Si
–    Pengelolaan lahan tanpa bakar (seresah dimanfaatkan untuk pupuk organik dan mulsa
–    Teknologi minapadi
–    Precision farming (mengutamakan presisi (ketepatan), seperti tepat waktu, tepat dosis pupuk, dan tepat komoditas
–    Padi apung
–    Pertanian organic
    Teknologi pemuliaan tanaman dan hewan ternak (untuk memperoleh bibit yang secara genetik baik menyeleksi/ hibridasi, mutasi genetic dan rekayasa genetic untuk menghasilkan varietas yang tahan terhadap cuaca ekstrim akibat perubahan iklim seperti panas yang terik, kekeringan, dan hujan angin)
    Pemanfaatan lahan pekarangan
c.    Penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggim
    Struktur pelindung alamiah  : penanaman vegetasi pantai (seperti ketapang cemara laut, mangrove, dan pohon kelapa), melindungi gumuk pasir serta pengelolaan terumbu karang
    Struktur perlindungan buatan : memperkuat pantai, mengubah laju transpor sedimen, mengurangi energi gelombang, reklamasi
    Struktur konstruksi bangunan : rumah panggung
    Relokasi
    Penyediaan air bersih: sumur,  hidran umum, kran umum dan terminal air
    Sistem pengelolaan pesisir terpadu : keterpaduan meliputi dimensi sektor, ekologis, hirarki pemerintahan, dan disiplin ilmu
    Mata pencaharian alternatif : budidaya kepiting dan penggantian spesies ikan yang adaptif terhadap perubahan iklim

d.    Pengendalian penyakit terkait iklim (demam berdarah, malaria, diare dan penyakit akibat vektor lainnya)
    Pengendalian vektor  : menurunkan populasi vektor serendah mungkin , menghindari kontak masyarakat dengan vector. 3M (menguras, menimbun,menutup) sarang nyamuk , pengendalian perindukan nyamuk dan tikus, memperbaiki lingkungan agar tidak ada genangan air),  memasukkan ikan dalam kolam/pot tanaman membentuk Tim Jumantik
    Sistem kewaspadaan dini  : mengantisipasi terjadinya penyakit terkait perubahan iklim seperti diare, malaria DBD.
    Sanitasi dan air bersih : pasokan air yang bersih dan aman, pembuangan limbah dari hewan, manusia dan industri yang efisien, perlindungan makanan dari kontaminasi biologis dan kimia, udara yang bersih dan aman, rumah yang bersih dan aman,
    Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) : mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat dan menggunakan air bersih

2.    Mitigasi Perubahan Iklim;
a.    pengelolaan sampah dan limbah padat, berupa: pewadahan dan pengumpulan, pengolahan, pemanfaatan, penerapan konsep zero-waste
b.    Pengolahan dan pemanfaatan limbah cair, meliputi :
    Domestik : tangki septik dilengkapi dengan instalasi penangkap metana, dan memanfaatkan gas metana sebagai sumber energi baru
    Industri rumah tangga : IPAL anaerob yang dilengkapi penangkap gas metana
c.    Penggunaan energi baru, terbarukan dan konservasi energi, berupa
    Teknologi rendah emisi gas rumah kaca (tungku hemat energi, kompor sekam padi, kompor berbahan bakar biji-bijian non-pangan, lampu biogas, dan briket sampah
    Energi baru terbarukan (panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran air sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas
    Efisiensi energy:  hemat listrik, menggunakan lampu hemat energi (non-pijar), dan memaksimalkan pencahayaan alami.
d.    Pengelolaan budidaya pertanian : menggunakan pupuk organik, pengolahan biomasa menjadi pupuk, dan model irigasi berselang/bertahap (intermittent irigation), tidak membakar jerami di sawah dan menghindari proses pembusukan jerami akibat penggenangan sawah
e.    Peningkatan tutupan vegetasi : Penghijauan, Praktik wanatani/ agroforestri
f.    Pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan

3.    Kelompok Masyarakat dan Dukungan Berkelanjutan
a.    Kelompok Masyarakat diakui keberadaannya :Ada Pengurus, Struktur organisasi, Rencana/program kerja, Aturan (AD/ART, aturan adat, aturan kelompok, dll), Sistem kaderisasi
b.    Dukungan kebijakan : Kearifan lokal dan kebijakan kelompok, Kebijakan desa, Kebijakan kecamatan/ kabupaten/kota
c.    Dinamika kemasyarakatan : Tingkat keswadayaan masyarakat, Sistem pendanaan, Partisipasi gender
d.    Kapasitas masyarakat : Penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi ke pihak lain, Tokoh atau pemimpin local, Keragaman teknologi, Tenaga local, Kemampuan masyarakat untuk membangun jejaring
e.    Keterlibatan pemerintah _ daerah, Propinsi, Pusat,
f.    Keterlibatan dunia usaha, LSM, dan perguruan tinggi
g.    Pengembangan kegiatan : Konsistensi pelaksanaan kegiatan dan Penambahan kegiatan
h.    Manfaat : ekonomi, lingkungann dan pengurangan dampak kejadian iklim ekstrim

Sumber: BLH Kabupaten Sleman